Showing posts with label ABDUL SOMAD. Show all posts
Showing posts with label ABDUL SOMAD. Show all posts

LAPORAN Resmi Masuk, Polisi Berjanji Akan.. 7 Orang Terlapor Ini

Aparat kepolisian berjanji akan mengusut tuntas dugaan tindakan intimidasi Ustaz Abdul Somad (UAS) di Bali. Bahkan, Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Mohammad Iqbal menegaskan, permohonan maaf dari salah satu terlapor dinilai tidak bisa menghentikan perkara. Maka dengan demikian pihaknya tetap memproses laporan tersebut.



"Kami akan memprosesnya. Serta permohonan maaf itu tidak akan menggugurkan proses hukum," kata Brigjen Mohammad Iqbal di Gedung PTIK, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (13/12)

Memang, kata Iqbal, sampai saat ini, baru ada satu laporan yang diterima Bareskrim Polri soal tindakan tidak menyenangkan yang diterima oleh pendakwa asal Provinsi Riau itu. Namun, apabila ada laporan lain yang masuk ke sejumlah Polda, maka Bareskrim akan mengambil alih.

"Kita melakukan supervisi. Maka, semua laporan besar akan ditarik. Jadi kasus ini Bareskrim akan menangani," tambahnya.

Sebelumnya, kasus dugaan pengusiran terhadap Ustaz Abdul Somad itu dilaporkan ke polisi oleh advokat dari Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF), Ismar Syafrudin. Dalam laporannya, setidaknya ada tujuh oknum, yaitu I Gusti Ngurah Harta, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Provinsi Bali I Gusti Ngurah Arya Wedakarna, Sekjen Laskar Bali Ketut Ismaya, Jemima Mulyandari, Ketua Patriot Garda Nusantara Gus Yadi, Mocka Jadmika, dan anggota Silat Sandhi Murti bernama Arif.

Laporan GNPF sendiri teregistrasi dengan Nomor LP/1355/XII/2017 tanggal 12 Desember 2017, atas dugaan tindak pidana provokasi dan atau ujaran kebencian, dan atau pengadangan dan persekusi. Selanjutnya salah satu dari mereka, yaitu I Ketut Ismaya menyampaikan permintaan maaf atas apa yang dilakukan pihaknya kepada Ustaz Abdul Somad.

http://khazanah,republika,co,id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/12/14/p0ww0w396-polisi-janji-usut-tuntas-kasus-pengusiran-ustaz-abdul-somad

VIRAL Pejabat Ini Dalang Aksi Di Bali Penolakan Ustaz Abdul Somad

Penolakan Ustaz Abdul Somad di Bali kembali memunculkan sosok Arya Wedakarna yang dituding sebagai dalang dibalik aksi penolakan. Anggota DPD asal Bali inipun telah dilaporkan Anggota DPR dari Fraksi PKB, Lukman Edy ke Badan Kehormatan DPD RI.



Terkait sepak terjang Arya Wedakarna ini, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali sebenarnya telah mengingatkan yang bersangkutan berkali-kali. Peringatan itu, agar Wedakarna tidak memprovokasi dan merusak keharmonisan masyarakat di Bali antara umat Hindu dan Islam. 

"Kita sudah sering berkomunikasi dengan Pak Arya supaya sebagai bangsa Indonesia, tidak membuat salah paham. Selama orang luar Bali tidak mengganggu, jangan mengganggu mereka," kata Ketua PHDI Bali, I Gusti Ngurah Sudiana, akhir pekan lalu.

Pihaknya bahkan mengatakan, sudah berkali-kali berkomunikasi dengan Wedakarna untuk menghentikan provokasi itu. Sudiana meminta Wedakarna tidak mengatasnamakan umat Hindu atau agama Hindu atas ujaran-ujaran yang ia sampaikan. "Jangan bawa Hindunya, itu persoalan pribadi Wedakarna. Kami Hindu Bali tidak seperti itu," tegas Sudiana.

"Kalau dia bicara atas nama Hindu, saya jelas keberatan," tambahnya.

PHDI Bali juga telah memberitahu jangan sampai ada lagi kata-kata yang keluar tidak sesuai dengan kepribadian orang Bali. Sudiana juga mengimbau, kepada seluruh umat beragama di Bali dan di luar Bali bisa membedakan sikap Wedakarna ini, yang bukan mencerminkan masyarakat Bali keseluruhan. 

http://khazanah,republika,co,id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/12/13/p0vn38396-terkait-ustaz-somad-phdi-bali-telah-ingatkan-wedakarna

Insiden Ustaz Somad, Sekjen Laskar Bali 'Ngaturang Pajati' Demi Menunjukkan Kejujuran dan Kebenaran Atas Segalanya

Sekretaris Jenderal Laskar Bali, I Ketut Ismaya, melakukan 'Ngaturang Pejati' atau mempersembahkan Banten Pejati kepada dewa-dewa demi menunjukkan kejujuran dan kebenaran atas segala ucapannya terkait peristiwa yang menimpa Ustaz Abdul Somad di Bali, beberapa waktu lalu. Sejumlah anggota Laskar Bali dan awak media menjadi saksi ritual suci dalam adat, budaya, dan ajaran Hindu tersebut.



Banten adalah persembahan dan sarana umat Hindu untuk mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Kuasa. Pejati bermakna melaksanakan sebuah pekerjaan dengan penuh kejujuran dan kesungguhan dengan dipersaksikan. Tujuannya mendapat keselamatan dari Yang Kuasa.

Ada empat unsur utama Banten Pejati yang dihaturkan kepada Sang Hyang Catur Loka Phala. Pertama, peras untuk Sang Hyang Iswara. Kedua, daksina untuk Sang Hyang Brahma. Ketiga, ketupak kelanan kepada Sang Hyang Wisnu. Keempa, soda atau ajuman untuk Sang Hyang Mahadewa.

"Hari ini saya menyatakan apa yang saya ucapkan, apa yang saya sampaikan adalah kebenaran. Ini demi kedamaian umat Hindu dan Muslim di seluruh Indonesia. Mohon Engkau memberikan pencerahan dan penerangan kepada kami semua umat Hindu di Bali, begitu pun pada saudara kami yang Muslim semoga mereka berkenan memaafkan kami apabila kami khilaf dan salah terucap kata," kata Ismaya dalam doanya di Sanur, Denpasar, Senin (11/12) petang.

Ia melanjutkan, "Apa yang saya ucapkan adalah kebenaran yang sebenar-benarnya. Apabila saya mengakali dan mengada-ada demi sebuah pencitraan, saya siap dihukum bersama keluarga saya. Saya siap menerima sanksi dari para dewa. Semoga Beliau menerima doa-doa kami. Semoga Beliau menerangi jalan kami. Lindungilah kami, berkahilah kami demi persatuan Indonesia dan NKRI." 

Ismaya menceritakan kronologis kejadian penolakan terhadap Ustaz Somad di Hotel Aston Denpasar, Jumat (8/12). Aksi tersebut digawangi Komponen Rakyat Bali (KRB) yang beranggotakan sejumlah ormas, di antaranya Ganaspati, Patriot Garuda Nusantara (PGN), dan Perguruan Sandhi Murti.

Ismaya mengatakan dirinya baru datang ke Hotel Aston menjelang pukul 18.00 WITA, namun dia menampik organisasinya adalah bagian dari KRB. Ini karena Laskar Bali sejak awal tidak dilibatkan dalam komunikasi, mediasi, dan fasilitasi sebelum kedatangan Ustaz Somad di Bali. Mediasi tersebut sempat disinggung senator Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Bali, Arya Wedakarna dalam sebuah wawancara langsung di salah satu televisi swasta.

"Kami ini kiblatnya polisi. Jika polisi bilang beliau adalah NKRI, buat apalagi kami harus ribut?" kata Ismaya saat dijumpai Republika.

Ismaya mengatakan pihak kepolisian -dalam hal ini Kepala Subbidang Intelkam Kepolisian Daerah (Polda) Bali dan Kepala Kepolisian Resor Kota (Kapolresta) Denpasar- menyampaikan kepadanya bahwa Ustaz Somad sangat mencintai NKRI. Polisi menyebut ustaz asal Pekanbaru, Riau, itu seorang yang tidak pernah mempunyai catatan kriminal, juga orang yang baik. Informasi tersebut diperolehnya pukul 11.00 WITA pada hari yang sama.

"Jadi, bagi kami, jika beliau sudah NKRI, pantang kami ganggu. Justru kami harus mendukung. Kami, anggota Laskar Bali yang sempat berkumpul di Lapangan Renon sejak pagi hari langsung membubarkan diri dan membawa pulang spanduk kami," kata Ismaya.

Pada hari yang sama, sekitar pukul 14.00 WITA, Ismaya mendapat telepon dari perwakilan KRB yang tetap menggelar aksi di depan Hotel Aston Denpasar. Pengunjuk rasa mempertanyakan ketidakhadiran Laskar Bali di lokasi.

"Saya bilang ke mereka (KRB), beliau NKRI kok. Kami dukung dan kami tak ingin terprovokasi. Jika beliau bukan NKRI, baru kami ikut menolak," papar Ismaya.

Selanjutnya pukul 17.00 WITA Ismaya kembali menerima panggilan telepon dari KRB yang mengabarkan terjadi perundingan alot. Ustaz Somad tidak bersedia mencium Bendera Merah Putih dan tidak mau menyanyikan lagu kebangsaan 'Indonesia Raya.' Ustaz Somad justru akan meninggalkan Bali pada hari yang sama dan batal mengisi tablig akbar.

Hal ini yang membuat Ismaya dan anggota Laskar Bali lainnya marah. Mereka pun langsung merengsek masuk ke dalam hotel dengan tujuan bertemu langsung dengan Ustaz Somad. Salah seorang anggota Laskar Bali membawa tongkat komando milik Ismaya. Ismaya tidak memegang langsung tongkat komandonya pada waktu itu karena sedang tidak berpakaian resmi organisasi.

"Tujuan kami memaksa masuk adalah ingin duduk bersama, berdialog, dan bertanya pada beliau. Jika kami bermaksud sweeping, massa Laskar Bali yang datang pasti sangat banyak," kata Ismaya.

Pertemuan di sebuah ruangan di Hotel Aston berakhir dengan damai. Ustaz Somad bersedia mencium bendera dan mereka bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya, dengan syarat sesuai permintaan ustaz, tidak ada kamera foto dan kamera video. Ismaya pun menyampaikan permintaan maafnya kepada Ustaz Somad dan Laskar Bali berkomitmen menjadi pelindung safari dakwah Ustaz Somad di Bali.

"Saksi waktu itu adalah Kapolresta Denpasar, Dandim Badung, Ketua Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bali, dan panitia acara," sebut Ismaya.

Sejumlah anggota Laskar Bali yang beragama Islam bahkan mengikuti pengajian Ustaz Somad di Masjid An-Nur pada malam harinya. Anggota Laskar Bali dari Kampung Islam Kepaon Denpasar, Hendra Setiawan (30 tahun), mengatakan organisasi Laskar Bali seperti yang diberitakan media itu salah besar.

"Saya ikut Laskar Bali sejak lama. Saya dididik menjadi sosok yang lebih baik, tidak arogan, dan menghargai sesama, baik itu seagama dan lain agama. Jika ada yang menyebut Laskar Bali itu preman tak bertanggung jawab, itu salah besar. Jika Laskar Bali tidak suka Muslim, buat apa kami ikut mengamankan zikir akbar di Renon yang dihadiri ribuan Muslim beberapa waktu lalu. Kami melakukannya secara sukarela dan tanpa bayaran sedikit pun," katanya.

http://nasional,republika,co,id/berita/nasional/umum/17/12/12/p0t58w440-insiden-ustaz-somad-sekjen-laskar-bali-ngaturang-pajati

Ustaz Abdul Somad Ini Harus Ditindaklanjuti, Kuasa Hukum Tetap Laporkan Kasus Ustaz Somad ke Mabes Polri

Kedatangan Ustaz Abdul Somad untuk mengisi safari dakwah di Provinsi Bali sempat mendapat penolakan dari sejumlah anggota organisasi masyarakat (ormas) kepemudaan yang menamakan diri Komponen Rakyat Bali (KRB). Lini masa menilai, aksi mereka menghadang ulama asal Pekanbaru tersebut dengan cara merengsek masuk ke dalam Hotel Aston tempat Ustaz Somad menginap adalah satu bentuk persekusi.



Kuasa Hukum Ustaz Abdul Somad, Muhammad Kapitra Ampera, mengatakan, pihaknya akan tetap melaporkan orang-orang yang terlibat langsung dan tidak langsung di Bali akhir pekan lalu. Ustaz Somad juga meminta ambil tindakan hukum terhadap mereka yang sudah merusak kebinekaan yang terjaga selama ini di Bali.

"Ustaz Abdul Somad sudah memberi pernyataan bahwa ini harus ditindaklanjuti secara hukum. Kita sudah mengidentifikasi orang-orang yang terlibat langsung dalam peristiwa ini," kata Kapitra saat video conference langsung di salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta, Senin (11/12).

Kapitra mengatakan, pihaknya tidak pernah menyebut nama-nama orang yang akan dilaporkan. Dia menjelaskan, kedatangan Ustaz Somad ke Bali sebagai tamu undangan yang memberi ceramah untuk komunitas Muslim. "Jadi, beliau bukannya mengajak orang non Muslim, tapi komunitas Muslim," katanya.

Kapitra juga menekankan, Ustaz Somad bukan seorang antiNKRI. Ustaz Somad adalah seorang dosen yang mengabdikan diri untuk anak bangsa hingga ke pelosok Tanah Air.

"Kami ini orang Melayu. Tanah Melayu menyumbang devisa besar untuk negara ini. Minyak kami menyumbang untuk republik ini. Bagaimana mungkin Ustaz Abdul Somad dituduh antiNKRI sementara dia adalah seorang dosen yang mengajar anak-anak pedalaman yang seharusnya ini tugas pemerintah. Dia mengajarkan Pancasila dan NKRI," kata Kapitra.

Kapitra mengatakan, pihaknya telah meminta Mabes Polri memberikan pengamanan. Detik demi detik kejadian yang dialami Ustaz Somad di Bali juga sudah diidentifikasi dan ke depannya akan diproses.

Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pusat Advokasi Hukum dan Hak Azasi Manusia (PAHAM) Cabang Bali, Ahmad Baraas menilai, hal yang dilakukan sekelompok orang terhadap Ustaz Somad merupakan perbuatan melanggar hukum. Perbuatan itu bisa dilakukan siapa saja dan tidak bisa dibatasi apa agamanya.

"Karena melanggar hukum, maka harus dipertanggungjawabkan pula di depan hukum. Kita bangga dengan kecintaan para persekutor Ustaz Somad terhadap NKRI. Sayangnya itu dilakukan dengan cara keliru, sehingga menciderai perasaan banyak orang dengan cara melawan hukum," katanya kepada Republika.

Baraas mengatakan, persekusi tidak bisa dilakukan sembarangan. Indonesia adalah negara hukum. "Jangankan kepada Ustaz Somad yang mempunyai rekam jejak sangat positif dalam menjaga NKRI, kepada golongan separatis sekalipun kita terlebih dahulu harus menunggu putusan pengadilan untuk menyatakan seseorang atau sekelompok orang antiNKRI," papar Baraas.

Baraas yang juga salah satu tokoh Muslim di Bali mengatakan, perbuatan main hakim sendiri dapat merusak tatanan hukum di Indonesia. Setiap orang nantinya bisa atau berpotensi melakukan hal sama jika tak diproses secara hukum.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat di Kepolisian Daerah Bali, Kombes Pol Hengky Widjaja mengatakan, peristiwa akhir pekan lalu akibat adanya miskomunikasi antara Ustaz Somad dan pihak penolak. Semua sudah diselesaikan dengan cara mediasi yang difasilitasi Kepolisian Resor Kota Denpasar, Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida), serta tokoh Puri Pemecutan, Ida Cokorda Pemecutan XI.

"Semua berjalan lancar sampai Ustaz Somad kembali melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai," katanya.

Hengky mengatakan setiap laporan kasus di kepolisian pastinya akan ditindaklanjuti. Polisi akan memelajari terlebih dahulu terpenuhinya unsur tindak pidana.

"Tugas Polri kan menampung semua keluhan masyarakat. Tinggal dipilah dan dipelajari apakah unsur tindak pidananya terpenuhi atau tidak," kata Hengky.

BARUSAN, Raja Bali Bilang Begini

Raja Bali, Ida Cokorda Pemecutan XI mengingatkan kembali eratnya persaudaraan antara Muslim dan Hindu yang telah terbina sejak dulu. Ida Cokorda Pemecutan XI menjadi salah satu tokoh masyarakat Bali yang hadir dan mendampingi langsung Ustadz Abdul Somad dalam safari dakwahnya di Masjid Baiturrohman, Denpasar.



"Berada di sini (masjid) adalah wujud toleransi beragama di Bali. Suasananya betul-betul penuh persaudaran dan saling memaafkan. Jika ada isu, maka itu dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Jangan sampai persatuan kita dirusak segelintir orang yang ingin memecah belah kita," kata Ida Cokorda Pemecutan XI di Denpasar.

BACA JUGA : GNPF Bali Akan Laporkan 5 Dalang INI Ke Mabes Polri

Muslim dan Hindu, sebut Ida Cokorda Pemecutan XI tidak hanya dekat karena sebangsa, namun juga dekat secara darah. Isi dakwah yang disampaikan Ustadz Somad di Bali pun tidak ada yang terkesan memecah persatuan, justru mempererat persatuan yang sudah ada sejak zaman pendahulu bangsa.

"NKRI dan Merah Putih sudah harga mati. Ini yang disampaikan Ustadz Somad," katanya.

Ustadz Somad merasa terhormat karena safari dakwahnya kali itu dihadiri langsung oleh salah satu tokoh berpengaruh di Bali. Mereka bisa duduk bersama, bertukar cerita tentang sejarah masjid dan perjuangan Muslim di Bali melawan Belanda pada masa penjajahan.

"Saya berharap kunjungan saya ini tidak menjadi kontroversial. Dari awal saya katakan, jika kedatangan saya bisa merekat yang putus, menyatukan yang patah, menyambung kembali yang retak, maka saya akan datang. Tapi, jika kedatangan saya hanya akan memecah belah, maka lebih baik saya tidak datang," katanya.

Ustadz asal Pekanbaru, Riau itu tak menyangka jamaah yang hadir di pengajiannya mencapai ribuan orang. Lebih dari lima ribu jamaah Muslim dari berbagai wilayah di Denpasar menghadiri tablig akbar dosen di sejumlah universitas Islam di Riau tersebut.

"Saya awalnya menyangka palingan cuma tiga saf. Mudah-mudahan ini karena kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW," katanya.

Kedatangan Ustadz Somad di Bali sempat mendapat penolakan dari sejumlah organisasi kemasyarakatan (Ormas) kepemudaan yang bergabung dalam Komponen Rakyat Bali (KRB). Massa yang jumlahnya kurang dari 100 orang ini beranggotakan Laskar Bali, Banaspati, Patriot Garuda Nusantara (PGN), Perguruan Sandhi Murti, dan ormas kepemudaan lainnya.

KRB sempat menghadang Ustaz Somad di Hotel Aston, Denpasar, tempatnya menginap. Unjuk rasa itu berakhir dengan mediasi dan safari dakwah Ustaz Somad pun kembali dilanjutkan.

http://nasional.republika,co,id/berita/nasional/daerah/17/12/11/p0s0lw359-raja-bali-persatuan-jangan-sampai-rusak

GNPF Bali akan Laporkan 5 Dalang Pengadangan Ustdz Somad ke Mabes Polri

Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Bali akan melaporkan dalang kasus pengadangan terhadap Ustadz Abdul Somad (UAS) di Denpasar, Bali, Jumat (08/12/2017).



GNPF Bali didampingi GNPF Pusat akan melaporkan 5 provokator pengadang dakwah UAS tersebut.

Pelaporan itu rencananya akan dilakukan pada Selasa (12/12/2017) atau Rabu (13/12/2017).

“Minimal ada lima orang yang akan kita laporkan ke Mabes Polri (di Jakarta),” ujar pengacara GNPF Ulama Kapitra Ampera di Pekanbaru, Riau, kepada hidayatullah, Ahad (10/12/2017) malam saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Orang-orang yang akan dilaporkan tersebut, terangnya, antara lain yang membawa senjata ke dalam sebuah hotel di Denpasar untuk mencari UAS, Jumat.

“Kemudian yang berteriak-teriak mencaci-maki Ustadz,” tambahnya.

Ia menjelaskan, pelaporan itu bagian dari tugas GNPF, yaitu sebagai pengawal ulama, sesuai namanya.

“Intinya, jangan lagi ada persekusi, pengadangan dakwah ulama. Apalagi ini bawa bawa parang masuk hotel. Memangnya Bali itu negara sendiri?” ungkapnya.

Ia mengatakan berbahaya jika kejadian pengadangan dakwah seperti di Bali itu terus terjadi. “Ini bisa memecah persatuan bangsa,” imbuhnya.

https://www.hidayatullah,com/berita/nasional/read/2017/12/10/130146/gnpf-bali-akan-laporkan-dalang-pengadangan-uas-ke-mabes-polri.html

SIMAK Penolakan Ustaz Somad dan Kerukunan Umat Beragama

Parisadha Hindu Darma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali meminta kelompok masyarakat yang menolak kedatangan Ustaz Abdul Somad ke Pulau Dewata itu tidak mengganggu kerukunan umat beragama di lingkungan setempat. Ketua PHDI, I Gusti Ngurah Sudiana, menegaskan, Bali merupakan daerah damai dan tenteram.



"Kami minta mereka yang menolak jangan memperkeruh suasana di Bali," kata Sudiana, Sabtu (9/12). 

Guru Besar Sosiologi Agama ini meminta kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya di Bali, tidak mengaitkan masalah penolakan ini dengan agama. Masyarakat Bali, jelas dia, sangat menghormati tamu. 

"Selama tujuannya baik, siapa pun ke Bali tidak ada masalah," kata Sudiana.

Kalaupun ada hal yang dianggap tidak baik, dia mengimbau untuk dikomunikasikan bersama dahulu. Salurannya yakni Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) bila terkait agama atau aparat yang berwenang.

Menurut dia, pihak panitia tidak mengomunikasikan hal itu bersama FKUB. Ketika ada persoalan penolakan dari ormas kepemudaan, PHDI pun tidak mengetahuinya. 

Sudiana juga menegaskan, ormas kepemudaan yang menolak Ustaz Abdul Somad bukan organisasi berdasar agama. Kelompok ini pun dinilai tidak mewakili seluruh masyarakat Bali. Mereka juga sudah dimediasi oleh aparat. "Jadi, masalahnya sudah selesai," kata dia.

Beberapa kelompok ormas kepemudaan menolak kedatangan Ustaz Abdul Somad di Bali pada Jumat (8/12). Kelompok ormas ini terdiri atas Patriot Garuda Nusantara (PGN), Laskar Bali, Banaspati, dan Sandhi Murti. Mereka menolak Ustaz Abdul Somad karena dituduh anti-NKRI dan ingin mendirikan negara Khilafah. 

Beruntung, penolakan itu segera dimediasi oleh aparat keamanan. Acara tabligh akbar di Masjid An Nur pun bisa dilanjutkan. Ustaz Abdul Somad bisa menyampaikan ceramah selama kurang lebih seratus menit.

Dalam ceramahnya, dia menegaskan tidak anti dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jika ada pihak yang menyebarkan isu tersebut dengan berpedoman pada potongan-potongan video pendek di media sosial maka itu sama sekali tidak benar.

"Jika ada isu saya anti-NKRI, ini pasti dibuat sama orang yang tidak punya paket data karena hanya menonton video pendek (jamaah tertawa),” kata dia di Masjid An Nur, Denpasar, Jumat malam.

Dia meminta umat tidak marah dan mendoakan mereka yang menebar isu diberikan hidayah, rezeki banyak, dan umur panjang. Dia menambahkan, Islam adalah agama yang menjadi rahmat bagi sekalian alam. Menurut dia, ulama terdahulu membawa Islam ke negeri ini sehingga Muslim bisa bertetangga dengan saudaranya yang beragama Hindu, Kristen, dan sebagainya. 

Meski demikian, Ustaz Somad dalam klarifikasinya yang disusun belakangan meminta agar oknum perusak kebinekaan bisa ditindak secara hukum.

Direktur Legal LBH Street Lawyer M Kamil Pasha menegaskan, tindakan ormas penolak Ustaz Abdul Somad telah bertentangan dengan Pasal 59 Ayat 3 UU tentang Ormas (Eks Peraturan Pemerintah Pengganti UU RI No 2 Tahun 2017). 
"Ormas dilarang melakukan tindakan permusuhan terhadap suku, agama, ras, atau golongan," kata Pasha. 

Ia menerangkan, ormas juga dilarang melakukan penyalahgunaan, penistaan, atau penodaan terhadap agama yang dianut di Indonesia. Ormas juga dilarang melakukan tindakan kekerasan, mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum, atau merusak fasilitas umum serta sosial. (Pengolah A Syalaby Ichsan).

http://www.republika,co,id/berita/nasional/umum/17/12/10/p0r8fj440-penolakan-ustaz-somad-dan-desa-jangan-ganggu-kerukunan-umat

TERNYATA, Cerita Raja Bali Temani Ustaz Abdul Somad Tabliq Akbar

Umat Hindu dan Islam di Bali sudah memiliki hubungan yang kuat sejak lama. Setidaknya hal itu yang disampaikan Ida Cokorda Pemecuran XI di Masjid Baiturrohman, Denpasar. Menurut Raja dari Puri Pemecutan Denpasar itu, sudah sejak lama kedua umat di Bali tak hanya hidup berdampingan, namun juga sudah seperti satu kesatuan.



“Kami dengan orang Muslim bukan sekarang saja (dekat), tapi secara darah kami sudah bersatu,” kata Cokorda, Minggu 10 Desember 2017.

Ida Cokorda Pemecutan XI hadir langsung dalam tabliq akbar yang diisi oleh Ustaz Abdul Somad. Ia merasa begitu sejuk mendengar petuah yang disampaikan oleh Ustaz Somad.

BACA JUGA : Ustdz Somad Di Sweeping Di Bali Masyarakat Melayu Langsung Melakkan ini

“Kami melihat bahwa Kiai (Ustaz Somad) menyampaikan tidak ada perpecahan, malah guyub kita. Justru malah semakin mempererat persatuan sesuai keinginan para pendahulu kita. NKRI, Merah Putih sudah harga mati. Ini betul-betul disampaikan oleh Kiai (Ustaz Somad),” ujarnya.

Ia mengajak semua pihak untuk menginterospeksi diri. Ia tak ingin isu-isu yang berkembang memudarkan semangat persaudaraan antara Hindu Bali dan umat Muslim yang sudah sejak lama terjalin.

“Kalau ada isu-isu yang tidak bertanggungjawab jangan sampai memecah kita. Persaudaraan kita yang sudah sedarah ini jangan sampai dirusak oleh segelintir orang yang ingin atau memiliki ambisi untuk memecah belah kita,” katanya.

Sementara itu, Ustaz Abdul Somad sendiri tak menampik jika hubungan erat antara umat Hindu Bali dengan warga Muslim sudah lama terjalin. Ia meminta kepada semua pihak untuk tak terpancing oleh ulah segelintir oknum yang tujuannya memang ingin merusak semangat persaudaraan.

“Bahwa ada isu-isu di Youtube, Twitter, WA, BBM dan lainnya jangan sampai ulah segelintir oknum merusak persaudaraan yang sudah kita bangun selama ini. Seandainya masyarakat Hindu Bali tidak toleran, mengusir ulama dan lain sebagainya, tidak mungkin ada 500 ribu lebih Muslim di Bali. Tidak mungkin Islam bisa bertahan selama 8 abad lebih di Bali,” katanya.

Ia menegaskan jika provokator yang sempat melakukan persekusi terhadap dirinya tak hanya merusak dirinya saja, tetapi juga umat Hindu Bali yang selama ini dikenal terbuka bagi semua elemen masyarakat. Ustaz Somad mencontohkan bagaimana umat Hindu dan Muslim Bali bersatu padu meski berbeda keyakinan dan aqidah.

“Di Ubud (Gianyar) ada pondok Alquran yang justru sebagian tempatnya disediakan oleh saudara kita dari Hindu Bali. Ini justru orang di tempat lain meniru bagaimana masyarakat Bali bisa bertenggang rasa, tepo seliro  berlapang dada untuk menerima yang berbeda keyakinan. Kalau ada fitnah, isu, seyogyanya tabayyun dulu, tidak serta merta mengambil kesimpulan.

Apalagi sosial media sekarang ini sungguh luar biasa. Alhamdulilah saya merasa terhormat bisa duduk berdampingan dengan Raja, orang yang dihormati dalam struktur masyarakat Bali. kita bisa duduk bersama, bertukar cerita bagaimana mengusir Belanda bersama-sama saat itu,” katanya.

Pupuk Persaudaraan

Abdul Somad berharap kunjungannya ke Bali tak menimbulkan kontroversi berkepanjangan. Sejak awal ia menegaskan ingin hadir di tengah-tengah umat Muslim Bali untuk memupuk rasa persaudaraan sesama anak bangsa.

“Kalau kedatangan saya ini bisa merekat yang putus, menyatukan yang patah, menyambung yang retak saya akan datang. tapi kalau malah memecah belah lebih baik saya tidak datang. Alhamdulillah saya berharap kedatangan saya dapat memupuk persaudaraan antar-sesama Muslim maupun Muslim dengan saudara kita sebangsa dan setanah air,” kata Ustaz Somad.

Saat kembali dari Bali, Ustaz Abdul Somad disambut masyarakat Melayu di Riau. Menurutnya, meski dipersekusi, dia tetap menolak berikrar di depan orang-orang yang tidak punya legalitas dan otoritas.

Menurut Somad, tidak perlu ada yang meragukan kecintaannya terhadap NKRI. Tapi dia tidak ingin ada preman yang mendikte dirinya. Karena itu, dia minta pemerintah dapat menjaga ulama.

"Saya hanya tidak mau didikte di depan preman-preman nasi bungkus. Itu yang saya tidak mau. Ke depan saya mau menyatakan bahwa pemerintah harus menjaga ulama kalau tidak umat akan mengamuk," kata Somad.

http://www.viva,co,id/berita/nasional/986218-cerita-raja-bali-temani-ustaz-abdul-somad-tabliq-akbar

Contact Form

Name

Email *

Message *