Wagub DKI Jakarta terpilih Sandiaga Uno menceritakan perjalanannya di Pilgub DKI, ketika menjadi pembicara di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Ciputat. Sandiaga ternyata pernah menyetorkan KTP untuk pencalonan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) lewat jalur independen.
"Awalnya saya bilang ke Pak Prabowo keberatan diajukan ke Pilkada DKI. Karena saat itu ada gubernur yang 'maha-gubernur'. Karena banyak juga yang dukung satu juta KTP. Saya juga kalau nggak salah juga pernah tuh nyetor KTP, oleh kantor saya waktu itu," kata Sandiaga seraya tertawa di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Ciputat, Rabu (7/6/2017).
Sandiaga mengaku punya strategi khusus dalam menghadapi pilgub lalu. Ia menggandeng konsultan bisnis, bukan konsultan politik, dalam Pilgub DKI.
"Dalam pilgub kemarin, saya tidak memakai kacamata politik, tapi ekonomi dan bisnis. Dari mereka, ada tiga yang dibutuhkan warga, yaitu pendidikan, lapangan kerja, dan biaya hidup," katanya.
Sandiaga mengatakan sempat mengkhawatirkan pula isu ras dan agama yang sering menjadi perbincangan. Namun dia menyebut, dengan fokus pada tiga program pokoknya, hal itu mengantarkan dirinya menjadi pemimpin di DKI Jakarta.
"Saya waktu itu bertanya ke konsultan, apakah agama dan suku menjadi faktor. Ternyata ya, tapi itu nomor kedelapan," tuturnya.
Sandiaga menyebut warga Jakarta kebanyakan telah bisa menerima kehadiran pemimpin baru. Ia mengatakan gejolak yang selama ini ramai hanya ada di media sosial.
"Warga yang belum move on itu sudah di bawah 15 persen. Jadi yang ramai di medsos aja. Kalau di riil udah nggak," katanya.
Wakil gubernur terpilih DKI Jakarta Sandiaga Uno menceritakan awal mula pencalonannya di Pilkada DKI ketika menjadi pembicara di Seminar Nasional PP Muhammadiyah, Rabu (7/6/2017).
Sandiaga ternyata pernah mengumpulkan KTP untuk pencalonan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.
"Awalnya saya bilang ke Pak Prabowo keberatan diajukan ke Pilkada DKI. Karena saat itu ada gubernur yang maha gubernur. Karena banyak juga yang dukung satu juta KTP. Saya juga kalau enggak salah juga pernah tuh nyetor KTP, oleh kantor saya waktu itu," kata Sandiaga di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Rabu.
Sandiaga akhirnya membulatkan tekad untuk maju sebagai gubernur. Ia menggunakan jasa konsultan politik untuk merumuskan visi misi yang sesuai dengan perspektifnya, yakni perekonomian.
"Saya turunkan konsultan bisnis, bukan politik. Ternyata melalui pendekatan bisnis, ekonomi ada tiga permasalahan yang bisa dimengerti banyak poltisi," ujarnya.
Tiga masalah itu yakni lapangan kerja, pendidikan, dan biaya hidup. Sandiaga mengaku sudah mengunjungi 1.300 RW di Jakarta. Ia menyerap aspirasi dan preferensi politik warga. Ia juga sempat memikirkan isu suku, agama, ras, dan antargolongan dalam kontestasi lalu.
"Sebagaian warga Jakarta justru bangga dipimpin etnis non muslim dan tionghoa, jumlahnya 30 persen," kata Sandiaga.
Dari blusukannya itu, Sandiaga juga menyimpulkan bahwa warga Jakarta ingin pilkada diikuti oleh dua pasang calon. Ia pun meyakinkan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto bahwa Anies Baswedan lebih layak mengisi posisi calon gubernur.
Setelah berhasil memenangkan Pilkada, Sandiaga dan Anies berfokus untuk rekonsiliasi kedua kubu pendukung. Ia menyayangkan masih adanya pendukung Ahok yang belum move on.
"Yang belum move on di bawah 15 persen, jadi yang rame di medsos aja, kalau di real udah enggak," ujarnya.