Bocah 14 Tahun Yang Diterima di ITB Tidak Pernah Sekolah Formal Bocah bernama Musa Izzanardi Wijanarko menjadi sosok fenomenal dalam Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2017.
Bagaimana tidak, Izzan, sapaan akrabnya, diterima masuk menjadi mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Institut Teknologi Bandung ( ITB) di usianya yang baru 14 tahun.
Anak kedua dari pasangan Yanti Herawati (46) dan Mursid Wijanarko (46) ini ternyata tidak pernah bersekolah formal seperti orang kebanyakan.Ijazah paket C yang didapatkannya pada tahun 2015 lalu menjadi modal untuk mengikuti SBMPTN 2017.
Baca Juga : Kisah Nyata BPJS
Baca Juga : Menikah Seni Mengalah
Baca Juga : Mencari Hp Hilang Mudah
Baca Juga : Penguasa Dapur
Baca Juga : Sejarah PKI Yang Beringas
Baca Juga : Polisi Aneh
Baca Juga : Anak Masa Kini
Baca Juga : Siapa Bertemu Waktu Maghrib
Baca Juga : Anak Usia 14 Tahun Masuk ITB
Baca Juga : Orang Kaya Belajar Dari ini
Baca Juga : Diam-diam Orang Tua Selalu Mengotbankan..
Baca Juga : Mau Duit 3 Juta..?
Baca Juga : Mungkin Jawaban Allah
Baca Juga : Diet Tanpa Obat
Baca Juga : Bibir Kering Saat & Sudah Puasa
Baca Juga : Bikin Gemuk Mie Istan Atau Nasi
Baca Juga : Ternyata Kunyit Bikin Mandul
Baca Juga : Gula Batu Tidak Lebih Sehat Dari Gula Pasir
Baca Juga : Jenis Pasta Gigi, Jangan Asal Pilih
Baca Juga : Menikah Seni Mengalah
Baca Juga : Mencari Hp Hilang Mudah
Baca Juga : Penguasa Dapur
Baca Juga : Sejarah PKI Yang Beringas
Baca Juga : Polisi Aneh
Baca Juga : Anak Masa Kini
Baca Juga : Siapa Bertemu Waktu Maghrib
Baca Juga : Anak Usia 14 Tahun Masuk ITB
Baca Juga : Orang Kaya Belajar Dari ini
Baca Juga : Diam-diam Orang Tua Selalu Mengotbankan..
Baca Juga : Mau Duit 3 Juta..?
Baca Juga : Mungkin Jawaban Allah
Baca Juga : Diet Tanpa Obat
Baca Juga : Bibir Kering Saat & Sudah Puasa
Baca Juga : Bikin Gemuk Mie Istan Atau Nasi
Baca Juga : Ternyata Kunyit Bikin Mandul
Baca Juga : Gula Batu Tidak Lebih Sehat Dari Gula Pasir
Baca Juga : Jenis Pasta Gigi, Jangan Asal Pilih
"Ijazah paket A (SD) diambil waktu dia umur 8 tahun," ujar Yanti saat dihubungi Kompas melalui ponselnya, Rabu (14/6/2017) . Yanti memaparkan alasan anaknya tidak pernah bersekolah resmi.
Menurut dia, kejeniusan Izzan mulai terlihat ketika usiannya masih 3 tahun. Buku-buku tentang tokoh-tokoh fisika dan matematika menjadi bacaan wajibnya sehari-hari." Izzan pernah enggak naik dari TK A ke TK B karena waktu di sekolah alam cuma main terus enggak mau belajar dan tidak mampu mengikuti kegiatan di kelas. Akhirnya saya ajari sendiri di rumah," tutur Yanti.
Di rumah, Yanti mengajari Izzan membaca. Bahkan Izzan meminta ibunya untuk mengajarinya bermain catur hingga akhirnya permainan asah otak tersebut menjadi aktivitas rutin ibu dan anak ini.
Menginjak usia 6 tahun, Izzan bertambah cerdas. Bocah pengagum Newton ini pun kerap kali mempraktikkan hukum gravitasi dalam kegiatan sehari-hari.
" Izzan anaknya enggak bisa diam, tetapi kalau belajar matematika dia bisa tenang. Ternyata mengamati bagian dari belajar yang dilakukannya. Dia senangnya nabrak anak lain sampai jatuh. Dia juga sering nanya teori Newton tentang hukum benda-benda angkasa," sebutnya.
Secara intensif Izzan terus belajar sendiri matematika di rumah dengan ibunya sebagai mentor. Satu tahun berjalan Izzn pun mampu menyelesaikan soal-soal dan rumus matematika yang dipelajari anak-anak SMA.
"Matematika kelas 1 SD sampai kelas 1 SMA ditempuh dalam waktu satu tahun karena dia cuma belajar matematika saja. Tulisannya juga acak-acakan karenaa jarang nulis. Umur 7 tahun Izzan mulai belajar fisika," tuturnya.
Ilmu fisika terus dipelajari secara tekun oleh Izzan. Bahkan, di usianya yang masih 7 tahun dia mampu menyelesaikan soal-soal fisika setingkat kelas 3 SMP. Salah satu teori fisika yang dipejari oleh Izzanadalah teori fisika gasing.
Yanti mulai kewalahan menanggapi rasa ingin tahu Izzan yang mulai membesar ketika usia putranya 8 tahun. Dia pun tidak mampu lagi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Izzan.
"Umur 8 tahun dia bisa menyelesaikan matematikan kelas 3 SMA. Pertanyaannya juga sudah mulai tidak bisa saya imbangi. Salah satu pertanyaannya adalah bagaimana menurunkan diferensial benda ke dimensi N," ujarnya.
Selain itu, Izzan yang masih berusia 8 tahun juga pernah mempertanyakan tentang matematika sudut bola.
"Saya tanya teman saya yang tamatan astronomi, kata dia itu dipelajari nanti pada tingkat 3 kuliah astronomi tentang sudut 3 dimensi," ungkapnya.
Yanti pun akhirnya bolak balik berkonsultasi dengan dosen-dosen matematika ITB seperti Agus Jodi dan Oki Neswan. Kedua dosen tersebut juga tidak mampu memberikan banyak solusi. Oki Neswan pun menyuruh agar Izzan mengikuti SBMPTN agar bakatnya bisa diasah di ITB.
Dengan penuh kesabaran, Yanti pun membimbing Izzan selama beberapa tahun agar bisa ikut ujian persamaan untuk mengambil ijazah paket A hingga C. Setelah berhasil mengambil ijazah paket C pada tahun 2015 lalu, Izzansempat mengikuti SBMPTN pada tahun 2016. Sayang, Izzan gagal dan baru sukses pada tahun ini.
"Ikut tahun ini persiapannya juga cuma dua bulan," ucapnya.
Menginspirasi SIlahkan Klik Bagikan / Share
Menginspirasi SIlahkan Klik Bagikan / Share