Presiden Joko Widodo mengatakan, kebijakan impor 500.000 ton beras dilaksanakan demi memperkuat cadangan beras nasional.
"Itu ( impor beras) untuk memperkuat cadangan beras kita. Agar tidak terjadi gejolak harga yang ada di daerah-daerah," ujar Jokowi di sela kunjungan kerjanya di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin (15/1/2018).
Data yang dihimpun Kompas, harga beras medium di Pasar Beras Cipinang memang mencapai titik tertinggi dalam 5 tahun terakhir, sehingga dibutuhkan penetrasi berupa tambahan stok.
Selain itu, posisi cadangan beras pangan Indonesia menipis.
Diketahui, ketentuan soal cadangan beras di Indonesia itu mematok pada FAO. Organisasi sayap PBB yang mengurusi soal pangan itu merekomendasikan cadangan beras untuk negara seperti Indonesia, yakni sebesar 1,1 juta hingga 1,8 juta ton.
Sementara, cadangan beras pangan Indonesia pertengahan Januari 2018 juga jauh di bawah itu sehingga dibutuhkan penambahan cadangan.
Di sisi lain, panen beras di Indonesia baru dimulai pertengahan Februari 2018 dan berakhir pada Maret 2018 (panen raya).
Total konsumsi beras per tahun di Indonesia sebesar 37.700.000 ton. Artinya, konsumsi beras per bulan mencapai sekitar 3,1 juta ton.
Hitung-hitungan pemerintah pun, 500.000 ton beras hasil impor itu akan menjadi back up selama sekitar satu hingga dua pekan saja.
Jika merujuk pada waktu panen, maka impor beras itu pun diyakini tidak akan 'memukul' petani.
http://nasional.kompas.com/read/2018/01/16/09133911/ini-alasan-pemerintah-jokowi-impor-500000-ton-beras